EFEK NITROGEN PADA PENYELAM…

EFEK NITROGEN PADA PENYELAM…

TEORI DASAR
Hukum Fisika yang paling mendasari teori dekompresi adalah HUKUM HENRY, dimana hukum tersebut menyebutkan bahwa pada sebuah bejana yang berisi air dan udara, bila tekanan udara ditingkatkan maka akan terjadi pelarutan udara kedalam zat cair tersebut proporsi seiring dengan peningkatan tekanan udara. Saat tekanan dalam bejana tersebut sudah cukup tinggi, apabila tekanan udara dikurangi secara perlahan-lahan, maka gas yang terlarut akan dibebaskan secara perlahan kembali ke udara tanpa membentuk gelembung udara. Lain halnya bila tekanan tersebut dikurangi secara cepat, maka udara yang terlarut didalam zat cair akan dibebaskan secara cepat pula, dan membentuk gelembung udara seperti air mendidih (boiling water).

Read the rest of this entry

Manfaat Mengkonsumsi Teh

Manfaat Mengkonsumsi Teh

Ada beberapa manfaat mengkonsumsi teh hitam…,,diantaranya:

1. Antioksidan dalam teh dapat melindungi tubuh dari efek polusi dan penuaan dini

2. Mengandung sedikit kafein. 1/8 cangkir kopi mengandung 135 mg kafein, sementara 1 cangkir teh hanya mengandung 30-40 mg kafein sehingga tidak membuat sakit kepala atau susah tidur

3. Mengurangi risiko serangan jantung dan stroke. Teh membuat peredaran darah lancar dan bersih. Hasil studi di Belanda memperlihatkan, orang yang minum 2-3 cangkir teh hitam perhari memiliki sedikit resiko serangan jantung daripada yang tidak pernah minum teh.

Read the rest of this entry

MODEL KEPERAWATAN PRIMER

MODEL KEPERAWATAN PRIMER

Dengan berkembangnya Ilmu Keperawatan dn berbagai ilmu dalam bidang kesehatan, serta meningkatknya tuntutan masyarakat terhadap pelayanan keperawatan yang bermutu tinggi, dengan didasarkan bahwa pemberian asuhan keperawatan model tim masih mempunyai beberapa kekurangan, maka berdasarkan studi, para pakar keperawatan mengembangkan model pemberian asuhan keperawatan yang terbaru yaitu Model Primer (Primary Nursing). Dan perawat yang melaksanakan asuhan keperawatan disebut sebagai “Primary Nurse”. Tujuan dari Model Primer adalah terdapatnya kontinuitas keperawatan yang dilakukan secara komprehensif dan dapat dipertanggung jawabkan. Penugasan yang diberikan kepada Primary Nurse atas pasien yang dirawat dimulai sejak pasien masuk ke rumah sakit yang didasarkan kepada kebutuhan pasien atau masalah keperawatan yang disesuaikan dengan kemampuan Primary Nurse. Setiap primary nurse mempunyai 4-6 pasien dan bertanggung jawab selama 24 jam selama pasien dirawat. Primary Nurse akan melakukan pengkajian secara komprehensif dan merencanakan asuhan keperawatan. Selama bertugas ia akan melakukan berbagai kegiatan sesuai dengan masalah dan kebutuhan pasien. Demikian pula pasien, keluarga, staff medik dan staf keperawatan akan mengetahui bahwa pasien tertentu merupakan tanggung jawab primary nurse tertentu. Dia bertanggung jawab untuk mengadakan komunikasi dan koordinasi dalam merencanakan asuhan keperawatan dan dia juga akan merencanakan pemulangan pasien atau rujukan bila diperlukan. Jika primary nurse tidak bertugas, kelanjutan asuhan keperawatan didelegasikan kepada perawat lain yang disebut “associate nurse”. Primary nurse bertanggung jawab terhadap asuhan keperawatan yang diterima pasien dan menginformasikan tentang keadaan pasien kepada Kepala Ruangan, dokter dan staf keperawatan lainnya. Kepala Ruangan tidak perlu mengecek satu persatu pasien, tetapi dapat mengevaluasi secara menyeluruh tentang aktivitas pelayanan yang diberikan kepada semua pasien. Seorang primary nurse bukan hanya mempunyai kewenangan untuk memberikan asuhan keperawatan tetapi juga mempunyai kewenangan untuk melakukan rujukan kepada pekerja sosial, kontak dengan lembaga sosial masyarakat, membuat jadual perjanjian klinik, mengadakan kunjungan rumah dan sebagainya. Dengan diberikannya kewenangan tersebut, maka dituntut akuntabilitas yang tinggi terhadap hasil pelayanan yang diberikan.

Primary Nurse berperan sebagai advokat pasien terhadap birokrasi rumah sakit. Kepuasan yang dirasakan pasien dalam model primer adalah pasien merasa dimanusiawikan karena pasien terpenuhi kebutuhannya secara individual dengan asuhan keperawatan yang bermutu dan tercapainya pelayanan yang efektif terhadap pengobatan, dukungan, proteksi, informasi dan advokasi. Kepuasan yang dirasakan oleh Primary Nurse adalah tercapainya hasil berupa kemampuan yang tinggi terletak pada kemampuan supervisi. Staf medis juga merasakan kepuasannya dengan model primer ini, karena senantiasa informasi tentang kondisi pasien selalu mutakhir dan laporan pasien komprehensif, sedangkan pada model Fungsional dan Tim informasi diperoleh dari beberapa perawat. Untuk pihak rumah sakit keuntungan yang dapat diperoleh adalah rumah sakit tidak perlu mempekerjakan terlalu banyak tenaga keperawatan, tetapi tenaga yang ada harus berkualitas tinggi. Dalam menetapkan seorang menjadi Primary Nurse perlu berhati-hati karena memerlukan beberapa kriteria, diantaranya dalam menetapkan kemampuan asertif, self direction, kemampuan mengambil keputusan yang tepat, menguasai keperawatan klinik, akuntabel serta mampu berkolaborasi dengan baik antar berbagai disiplin ilmu. Di negara maju pada umumnya perawat yang ditunjuk sebagai primary nurse adalah seorang Clinical Specialist yang mempunyai kualifikasi Master.

Berdasarkan hasil penelitian bahwa Model Primer dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan bila dibandingkan dengan Model Tim, karena:

1. Hanya satu perawat yang bertanggung jawab dan bertanggung gugat dalam perencanaan dan koordinasi asuhan keperawatan.

2. Jangkauan observasi setiap perawat hanya 4-6 pasien bila dibandingkan dengan 10-20 orang pada setiap tim.

3. Perawat Primer bertanggung jawab selama 24 jam.

4. Rencana pulang pasien dapat diberikan lebih awal.

5. Rencana keperawatan dan rencana medik dapat berjalan paralel. Diagram Model Primer adalah seperti tampak pada halaman berikut.

Diagram 4. Model Primer

KEPALA RUANGAN

PASIEN-PASIEN

PRIMARY NURSE

DOKTER

PENUNJANG

SHIFT PAGI

SHIFT SORE

SHIFT MALAM

Bandingkan!!! antara IKAN & CEWE…

Bandingkan!!! antara IKAN & CEWE…

Perumpaan Ikan DAN Cewe
Februari 24, 2010 · Tinggalkan sebuah Komentar

IKAN SALMON
Bentuknya OK, indah, dagingnya pink muda dan enak dimakan.Tapi
sayangnyamahal,Sesuai…ada nilai, ada kualitas….INI WANITA KARIR…

IKAN ARWANA
Kalo yang ini senangnya bolak balik di aquarium memperlihatkan kesombongan
dan keangkuhan karena tau tubuhnya indah, langkahnya lemah gemulai
& memancing mata nakal melihatnya di manapun dia bergaya…..So pasti harganya
mahal kalau ingin memilikinya. ….INI CELEBRITY PAPAN ATAS…….. .

IKAN MAS KOKI
Nah, ini jenis ikan lumayan mahal, indah bentuknya, warnanya, dan
lenggak-lenggoknya.Sayangnya hanya bisa dilihat, dikagumi, tak bisa
dimakan, karenatermasuk kategori ikan hiasan…..INI BINI ORANG…….

IKAN SAPU-SAPU
Jenis ini murah dan selalu nempel di kaca aquarium.Kalo udah nempel,
susah banget lepasnya…. ribeeeet…INI CEWEK SMU, ANAK KULIAHAN…. .

IKAN LELE
Kalo yang ini harganya murah, bisa dimakan kapan saja.Banyak dijual di
pinggir jalan, ada patilnya dan harus hati-hati,kena penyakit loh….
INI CEWEK PANGGILAN…

IKAN TERI
Bentuk dan rasanya begitu- begituuu… saja.Selalu enak dimakan kalau
lagi tidak ada sayur atau tidak ada lauk yang lainnya….INI BINI SENDIRI

Hufff….Facebook diblokir….

Hufff….Facebook diblokir….

Waduh,,,ini hari kedua setelah FB dikampusq diblokir…T_T….
udah cobain beberapa cara,,,masih aja gak bisa-bisa juga…hiks,hiks,hiks….
Klo ada yang tw please…komen disini y….
soalx dah cobain pake id-id,,pake proxy,trus…pake google…tetap aja gak bisa….BETE,,,BETE,,,BETE,,,,….
Mohon bantuanx ya…para pembaca…itupun klo bersedia buat ngasih tw aQ…hehehe….

STROKE…

STROKE…

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN STROKE

A. Pengertian

Stroke adalah deficit neurologist akut yang disebabkan oleh gangguan aliran darah yang timbul secara mendadak dengan tanda dan gejala sesuai dengan daerah fokal otak yang terkena (WHO, 1989).

B. Klasifikasi stroke

Berdasarkan proses patologi dan gejala klinisnya stroke dapat diklasifikasikan menjadi :

1. stroke hemoragik

Terjadi perdarahan cerebral dan mungkin juga perdarahan subarachnoid yeng disebabkan pecahnya pembuluh darah otak. Umumnya terjadi pada saat melakukan aktifitas, namun juga dapat terjadi pada saat istirahat. Kesadaran umumnya menurun dan penyebab yang paling banyak adalah akibat hipertensi yang tidak terkontrol.

2. stroke non hemoragik

Dapat berupa iskemia, emboli, spasme ataupun thrombus pembuluh darah otak. Umumnya terjadi setelah beristirahat cukup lama atau angun tidur. Tidak terjadi perdarahan, kesadaran umumnya baik dan terjadi proses edema otak oleh karena hipoksia jaringan otak.

Stroke non hemoragik dapat juga diklasifikasikan berdasarkan perjalanan penyakitnya, yaitu :

  1. TIA’S (Trans Ischemic Attack)

Yaitu gangguan neurologist sesaat, beberapa menit atau beberapa jam saja dan gejala akan hilang sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.

  1. Rind (Reversible Ischemic Neurologis Defict)

Gangguan neurologist setempat yang akan hilang secara sempurna dalam waktu 1 minggu dan maksimal 3 minggu..

  1. stroke in Volution

Stroke yang terjadi masih terus berkembang dimana gangguan yang muncul semakin berat dan bertambah buruk. Proses ini biasanya berjalan dalam beberapa jam atau beberapa hari.

  1. Stroke Komplit

Gangguan neurologist yang timbul bersifat menetap atau permanent.

C. Etiologi

Ada beberapa factor risiko stroke yang sering teridentifikasi, yaitu ;

1. Hipertensi, dapat disebabkan oleh aterosklerosis atau sebaliknya. Proses ini dapat menimbulkan pecahnya pembuluh darah atau timbulnya thrombus sehingga dapat mengganggu aliran darah cerebral.

2. Aneurisma pembuluh darah cerebral

Adanya kelainan pembuluh darah yakni berupa penebalan pada satu tempat yang diikuti oleh penipisan di tempat lain. Pada daerah penipisan dengan maneuver tertentu dapat menimbulkan perdarahan.

3. Kelainan jantung / penyakit jantung

Paling banyak dijumpai pada pasien post MCI, atrial fibrilasi dan endokarditis. Kerusakan kerja jantung akan menurunkan kardiak output dan menurunkan aliran darah ke otak. Ddisamping itu dapat terjadi proses embolisasi yang bersumber pada kelainan jantung dan pembuluh darah.

4. Diabetes mellitus (DM)

Penderita DM berpotensi mengalami stroke karena 2 alasan, yeitu terjadinya peningkatan viskositas darah sehingga memperlambat aliran darah khususnya serebral dan adanya kelainan microvaskuler sehingga berdampak juga terhadap kelainan yang terjadi pada pembuluh darah serebral.

5. Usia lanjut

Pada usia lanjut terjadi proses kalsifikasi pembuluh darah, termasuk pembuluh darah otak.

6. Polocitemia

Pada policitemia viskositas darah meningkat dan aliran darah menjadi lambat sehingga perfusi otak menurun.

7. Peningkatan kolesterol (lipid total)

Kolesterol tubuh yang tinggi dapat menyebabkan aterosklerosis dan terbentuknya embolus dari lemak.

8. Obesitas

Pada obesitas dapat terjadi hipertensi dan peningkatan kadar kolesterol sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada pembuluh darah, salah satunya pembuluh drah otak.

9. Perokok

Pada perokok akan timbul plaque pada pembuluh darah oleh nikotin sehingga terjadi aterosklerosis.

10. kurang aktivitas fisik

Kurang aktivitas fisik dapat juga mengurangi kelenturan fisik termasuk kelenturan pembuluh darah (embuluh darah menjadi kaku), salah satunya pembuluh darah otak.

D. Patofisiologi

1. Stroke non hemoragik

Iskemia disebabkan oleh adanya penyumbatan aliran darah otak oleh thrombus atau embolus. Trombus umumnya terjadi karena berkembangnya aterosklerosis pada dinding pembuluh darah, sehingga arteri menjadi tersumbat, aliran darah ke area thrombus menjadi berkurang, menyebabkan iskemia kemudian menjadi kompleks iskemia akhirnya terjadi infark pada jaringan otak. Emboli disebabkan oleh embolus yang berjalan menuju arteri serebral melalui arteri karotis. Terjadinya blok pada arteri tersebut menyebabkan iskemia yang tiba-tiba berkembang cepat dan terjadi gangguan neurologist fokal. Perdarahan otak dapat ddisebabkan oleh pecahnya dinding pembuluh darah oleh emboli.

2. Stroke hemoragik

Pembuluh darah otak yang pecah menyebabkan darah mengalir ke substansi atau ruangan subarachnoid yang menimbulkan perubahan komponen intracranial yang seharusnya konstan. Adanya perubahan komponen intracranial yang tidak dapat dikompensasi tubuh akan menimbulkan peningkatan TIK yang bila berlanjut akan menyebabkan herniasi otak sehingga timbul kematian. Di samping itu, darah yang mengalir ke substansi otak atau ruang subarachnoid dapat menyebabkan edema, spasme pembuluh darah otak dan penekanan pada daerah tersebut menimbulkan aliran darah berkurang atau tidak ada sehingga terjadi nekrosis jaringan otak.

E. Tanda dan gejala

Tanda dan gejala yang muncul sangat tergantung pada daerah dan luasnya daerah otak yang terkena.

  1. Pengaruh terhadap status mental
  • · Tidak sadar : 30% – 40%
  • · Konfuse : 45% dari pasien biasanya sadar
  • · Hemiplegia kontralateral yang disertai hemianesthesia (30%-80%)
  • · Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35%-50%)
  • · Apraksia bila mengenai hemisfer non dominant(30%)
    • · hemiplegia dan hemianesthesia kontralateral terutama tungkai (30%-80%)
    • · inkontinensia urin, afasia, atau apraksia tergantung hemisfer mana yang terkena
    • · Nyeri spontan pada kepala
    • · Afasia bila mengenai hemisfer dominant (35-50%)
    • · Sering fatal karena mengenai pusat-pusat vital di batang otak
    • · Hemiplegia alternans atau tetraplegia
    • · Kelumpuhan pseudobulbar (kelumpuhan otot mata, kesulitan menelan, emosi labil)
  1. Daerah arteri serebri media, arteri karotis interna akan menimbulkan:
  1. Daerah arteri serebri anterior akan menimbulkan gejala:
  1. Daerah arteri serebri posterior
  1. Daerah vertebra basiler akan menimbulkan:

Apabila dilihat bagian hemisfer mana yang terkena, gejala dapat berupa:

  1. Stroke hemisfer kanan
  • · Hemiparese sebelah kiri tubuh
  • · Penilaian buruk
  • · Mempunyai kerentanan terhadap sisi kontralateral sebagai kemungkinan terjatuh ke sisi yang berlawanan
    • · mengalami hemiparese kanan
    • · perilaku lambat dan sangat berhati-hati
    • ·
    • · kelainan bidang pandang sebelah kanan
    • · disfagia global
    • · afasia
    • · mudah frustasi
  1. stroke hemisfer kiri

F. Pemeriksaan diagnostik

Pemeriksaan penunjang disgnostik yang dapat dilakukan adalah :

  1. laboratorium: mengarah pada pemeriksaan darah lengkap, elektrolit, kolesterol, dan bila perlu analisa gas darah, gula darah dsb.
  2. CT scan kepala untuk mengetahui lokasi dan luasnya perdarahan atau infark
  3. MRI untuk mengetahui adanya edema, infark, hematom dan bergesernya struktur otak
  4. angiografi untuk mengetahui penyebab dan gambaran yang jelas mengenai pembuluh darah yang terganggu

G. Penatalaksanaan medis

Secara umum, penatalaksanaan pada pasien stroke adalah:

  1. Posisi kepala dan badan atas 20-30 derajat, posisi miring jika muntah dan boleh dimulai mobilisasi bertahap jika hemodinamika stabil
  2. Bebaskan jalan nafas dan pertahankan ventilasi yang adekuat, bila perlu diberikan ogsigen sesuai kebutuhan
  3. Tanda-tanda vital diusahakan stabil
  4. Bed rest
  5. Koreksi adanya hiperglikemia atau hipoglikemia
  6. Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
  7. Kandung kemih yang penuh dikosongkan, bila perlu lakukan kateterisasi
  8. Pemberian cairan intravena berupa kristaloid atau koloid dan hindari penggunaan glukosa murni atau cairan hipotonik
  9. Hindari kenaikan suhu, batuk, konstipasi, atau suction berlebih yang dapat meningkatkan TIK
  10. Nutrisi per oral hanya diberikan jika fungsi menelan baik. Jika kesadaran menurun atau ada gangguan menelan sebaiknya dipasang NGT
  11. Penatalaksanaan spesifik berupa:
  • · Stroke non hemoragik: asetosal, neuroprotektor, trombolisis, antikoagulan, obat hemoragik
  • · Stroke hemoragik: mengobati penyebabnya, neuroprotektor, tindakan pembedahan, menurunkan TIK yang tinggi

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN STROKE

NO DIAGNOSA KEPERAWATAN TUJUAN DAN KRITERIA HASIL INTERVENSI
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d. penumpukan sputum (karena kelemahan, hilangnya refleks batuk) Pasien mampu mempertahankan jalan nafas yang paten.

Kriteria hasil :

a. Bunyi nafas vesikuler

b. RR normal

c. Tidak ada tanda-tanda sianosis dan pucat

d. Tidak ada sputum

1. Auskultasi bunyi nafas

2. Ukur tanda-tanda vital

3. Berikan posisi semi fowler sesuai dengan kebutuhan (tidak bertentangan dgn masalah keperawatan lain)

4. Lakukan penghisapan lender dan pasang OPA jika kesadaran menurun

5. Bila sudah memungkinkan lakukan fisioterapi dada dan latihan nafas dalam

6. Kolaborasi:

  • · Pemberian ogsigen
  • · Laboratorium: Analisa gas darah, darah lengkap dll
  • · Pemberian obat sesuai kebutuhan
2. Penurunan perfusi serebral b.d. adanya perdarahan, edema atau oklusi pembuluh darah serebral Perfusi serebral membaik

Kriteria hasil :

a. Tingkat kesadaran membaik (GCS meningkat)

b. fungsi kognitif, memori dan motorik membaik

c. TIK normal

d. Tanda-tanda vital stabil

e. Tidak ada tanda perburukan neurologis

f.

1. Pantau adanya tanda-tanda penurunan perfusi serebral :GCS, memori, bahasa respon pupil dll

2. Observasi tanda-tanda vital (tiap jam sesuai kondisi pasien)

3. Pantau intake-output cairan, balance tiap 24 jam

4. Pertahankan posisi tirah baring pada posisi anatomis atau posisi kepala tempat tidur 15-30 derajat

5. Hindari valsava maneuver seperti batuk, mengejan dsb

6. Pertahankan ligkungan yang nyaman

7. Hindari fleksi leher untuk mengurangi resiko jugular

8. Kolaborasi:

  • · Beri ogsigen sesuai indikasi
  • · Laboratorium: AGD, gula darah dll
  • · Penberian terapi sesuai advis
  • · CT scan kepala untuk diagnosa dan monitoring
3. Gangguan mobilitas fisik b.d. kerusakan neuromuskuler, kelemahan, hemiparese Pasien mendemonstrasikan mobilisasi aktif

Kriteria hasil :

a. tidak ada kontraktur atau foot drop

b. kontraksi otot membaik

c. mobilisasi bertahap

1. Pantau tingkat kemampuan mobilisasi klien

2. Pantau kekuatan otot

3. Rubah posisi tiap 2 jan

4. Pasang trochanter roll pada daerah yang lemah

5. Lakukan ROM pasif atau aktif sesuai kemampuan dan jika TTV stabil

6. Libatkan keluarga dalam memobilisasi klien

7. Kolaborasi: fisioterapi

4. Gangguan komunikasi verbal b.d. kerusakan neuromuscular, kerusakan sentral bicara Komunikasi dapat berjalan dengan baik

Kriteria hasil :

a. Klien dapat mengekspresikan perasaan

b. Memahami maksud dan pembicaraan orang lain

c. Pembicaraan pasien dapat dipahami

1. Evaluasi sifat dan beratnya afasia pasien, jika berat hindari memberi isyarat non verbal

2. Lakukan komunikasi dengan wajar, bahasa jelas, sederhana dan bila perlu diulang

3. dengarkan dengan tekun jika pasien mulai berbicara

4. Berdiri di dalam lapang pandang pasien pada saat bicara

5. Latih otot bicara secara optimal

6. Libatkan keluarga dalam melatih komunikasi verbal pada pasien

7. Kolaborasi dengan ahli terapi wicara

5. (Risiko) gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan b.d. intake nutrisi tidak adekuat Kebutuhan nutrisi terpenuhi

Kriteria hasil :

a. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi

b. Berat badan dalam batas normal

c. Conjungtiva ananemis

d. Tonus otot baik

e. Lab: albumin, Hb, BUN dalam batas normal

1. Kaji factor penyebab yang mempengaruhi kemampuan menerima makan/minum

2. Hitung kebutuhan nutrisi perhari

3. Observasi tanda-tanda vital

4. Catat intake makanan

5. Timbang berat badan secara berkala

6. Beri latihan menelan

7. Beri makan via NGT

8. Kolaborasi : Pemeriksaan lab(Hb, Albumin, BUN), pemasangan NGT, konsul ahli gizi

6. Perubahan persepsi-sensori b.d. perubahan transmisi saraf sensori, integrasi, perubahan psikologi Persepsi dan kesadaran akan lingkungan dapat dipertahankan 1. Cari tahu proses patogenesis yang mendasari

2. Evaluasi adanya gangguan persepsi: penglihatan, taktil

3. Ciptakn suasana lingkungan yang nyaman

4. Evaluasi kemampuan membedakan panas-dingin, posisi dan proprioseptik

5. Catat adanya proses hilang perhatian terhadap salah satu sisi tubuh dan libatkan keluarga untuk membantu mengingatkan

6. Ingatkan untuk menggunakan sisi tubuh yang terlupakan

7. Bicara dengan tenang dan perlahan

8. Lakukan validasi terhadap persepsi klien dan lakukan orientasi kembali

7. Kurang kemampuan merawat diri b.d. kelemahan, gangguan neuromuscular, kekuatan otot menurun, penurunan koordinasi otot, depresi, nyeri, kerusakan persepsi Kemampuan merawat diri meningkat

Kriteria hasil :

a. mendemonstrasikan perubahan pola hidup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari

b. Melakukan perawatan diri sesuai kemampuan

c. Mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber bantuan

1. Pantau tingkat kemampuan klien dalam merawat diri

2. Berikan bantuan terhadap kebutuhan yang benar-benar diperlukan saja

3. Buat lingkungan yang memungkinkan klien untuk melakukan ADL mandiri

4. Libatkan keluarga dalam membantu klien

5. Motivasi klien untuk melakukan ADL sesuai kemampuan

6. Sediakan alat Bantu diri bila mungkin

7. Kolaborasi: pasang DC jika perlu, konsultasi dengan ahli okupasi atau fisioterapi

8. Risiko cedera b.d. gerakan yang tidak terkontrol selama penurunan kesadaran Klien terhindar dari cedera selama perawatan

Kriteria hasil :

a. Klien tidak terjatuh

b. Tidak ada trauma dan komplikasi lain

1. Pantau tingkat kesadaran dan kegelisahan klien

2. Beri pengaman pada daerah yang sehat, beri bantalan lunak

3. Hindari restrain kecuali terpaksa

4. Pertahankan bedrest selama fase akut

5. Beri pengaman di samping tempat tidur

6. Libatkan keluarga dalam perawatan

7. Kolaborasi: pemberian obat sesuai indikasi (diazepam, dilantin dll)

9. Kurang pengetahuan (klien dan keluarga) tentang penyakit dan perawatan b.d. kurang informasi, keterbatasan kognitif, tidak mengenal sumber Pengetahuan klien dan keluarga tentang penyakit dan perawatan meningkat.

Kriteria hasil :

a. Klien dan keluarga berpartisipasi dalam proses belajar

b. Mengungkapkan pemahaman tentang penyakit, pengobatan, dan perubahan pola hidup yang diperlukan

1. Evaluasi derajat gangguan persepsi sensuri

2. Diskusikan proses patogenesis dan pengobatan dengan klien dan keluarga

3. Identifikasi cara dan kemampuan untuk meneruskan progranm perawatan di rumah

4. Identifikasi factor risiko secara individual dal lakukan perubahan pola hidup

5. Buat daftar perencanaan pulang

Asuhan Keperawatan Stroke Non Hemoragik
A. Pengertian

Stroke atau cedera cerebrovaskuler adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak sering ini adalah kulminasi penyakit serebrovaskuler selama beberapa tahun. (Smeltzer C. Suzanne, 2002 dalam ekspresiku-blogspot 2008).

Gangguan peredaran darah diotak (GPDO) atau dikenal dengan CVA ( Cerebro Vaskuar Accident) adalah gangguan fungsi syaraf yang disebabkan oleh gangguan aliran darah dalam otak yang dapat timbul secara mendadak ( dalam beberapa detik) atau secara cepat ( dalam beberapa jam ) dengan gejala atau tanda yang sesuai dengan daerah yang terganggu.(Harsono, 1996).

Stroke adalah manifestasi klinik dari gangguan fungsi serebral, baik fokal maupun menyeluruh (global), yang berlangsung dengan cepat, berlangsung lebih dari 24 jam, atau berakhir dengan maut, tanpa ditemukannya penyebab selain daripada gangguan vascular.
B. Etiologi

Penyebab-penyebabnya antara lain:

  1. Trombosis (bekuan cairan di dalam pembuluh darah otak).
  2. Embolisme cerebral (bekuan darah atau material lain).
  3. Iskemia (Penurunan aliran darah ke area otak).(Smeltzer C. Suzanne, 2002).

C. Faktor resiko pada stroke

  1. Hipertensi
  2. Penyakit kardiovaskuler: arteria koronaria, gagal jantung kongestif, fibrilasi atrium, penyakit jantung kongestif)
  3. Kolesterol tinggi
  4. Obesitas
  5. Peningkatan hematokrit ( resiko infark serebral)
  6. Diabetes Melitus (berkaitan dengan aterogenesis terakselerasi)
  7. Kontrasepasi oral( khususnya dengan disertai hipertensi, merkok, dan kadar estrogen tinggi)
  8. Penyalahgunaan obat ( kokain)
  9. Konsumsi alkohol (Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131).

D. Manifestasi Klinis

Gejala – gejala CVA muncul akibat daerah tertentu tak berfungsi yang disebabkan oleh terganggunya aliran darah ke tempat tersebut. Gejala itu muncul bervariasi, bergantung bagian otak yang terganggu.
Gejala-gejala itu antara lain bersifat::

  1. Sementara Timbul hanya sebentar selama beberapa menit sampai beberapa jam dan hilang sendiri dengan atau tanpa pengobatan. Hal ini disebut Transient ischemic attack (TIA). Serangan bisa muncul lagi dalam wujud sama, memperberat atau malah menetap.
  2. Sementara,namun lebih dari 24 jam, Gejala timbul lebih dari 24 jam dan ini dissebut reversible ischemic neurologic defisit (RIND).
  3. Gejala makin lama makin berat (progresif) Hal ini desebabkan gangguan aliran darah makin lama makin berat yang disebut progressing stroke atau stroke inevolution.
  4. Sudah menetap/permanen (Harsono,1996, hal 67).

E. Pemeriksaan Penunjang

  1. CT Scan Memperlihatkan adanya edema , hematoma, iskemia dan adanya infark.
  2. Angiografi serebral membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan atau obstruksi arteri.
  3. Pungsi Lumbal
    • Menunjukan adanya tekanan normal.
    • Tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukan adanya perdarahan.
  4. MRI : Menunjukan daerah yang mengalami infark, hemoragik.
  5. Ultrasonografi Dopler : Mengidentifikasi penyakit arteriovena.
  6. Sinar X Tengkorak : Menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal.(DoengesE, Marilynn,2000).

G. Penatalaksanaan

  1. Diuretika : untuk menurunkan edema serebral.
  2. Anti koagulan: Mencegah memberatnya trombosis dan embolisasi. (Smeltzer C. Suzanne, 2002, hal 2131).

Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Stok Non Hemoragic (SNH)

A. Pengkajian

  1. Pengkajian Primer
    • Airway.
      Adanya sumbatan/obstruksi jalan napas oleh adanya penumpukan sekret akibat kelemahan reflek batuk.
    • Breathing.
      Kelemahan menelan/ batuk/ melindungi jalan napas, timbulnya pernapasan yang sulit dan / atau tak teratur, suara nafas terdengar ronchi /aspirasi.
    • Circulation.
      TD dapat normal atau meningkat , hipotensi terjadi pada tahap lanjut, takikardi, bunyi jantung normal pada tahap dini, disritmia, kulit dan membran mukosa pucat, dingin, sianosis pada tahap lanjut.
  1. Pengkajian Sekunder
    • Aktivitas dan istirahat.
      Data Subyektif:

      • kesulitan dalam beraktivitas ; kelemahan, kehilangan sensasi atau paralysis.
      • Mudah lelah, kesulitan istirahat (nyeri atau kejang otot).

Data obyektif:

      • Perubahan tingkat kesadaran.
      • Perubahan tonus otot ( flaksid atau spastic), paraliysis (hemiplegia), kelemahan umum.
      • Gangguan penglihatan.
    • Sirkulasi
      Data Subyektif:

      • Riwayat penyakit jantung (penyakit katup jantung, disritmia, gagal jantung , endokarditis bacterial), polisitemia.

Data obyektif:

      • Hipertensi arterial
      • Disritmia, perubahan EKG
      • Pulsasi : kemungkinan bervariasi
      • Denyut karotis, femoral dan arteri iliaka atau aorta abdominal.
    • Integritas ego
      Data Subyektif:

      • Perasaan tidak berdaya, hilang harapan.

Data obyektif:

      • Emosi yang labil dan marah yang tidak tepat, kesediahan , kegembiraan.
      • Kesulitan berekspresi diri.
    • Eliminasi
      Data Subyektif:

      • Inkontinensia, anuria
      • Distensi abdomen (kandung kemih sangat penuh), tidak adanya suara usus(ileus paralitik)
    • Makan/ minum
      Data Subyektif:

      • Nafsu makan hilang.
      • Nausea / vomitus menandakan adanya PTIK.
      • Kehilangan sensasi lidah , pipi , tenggorokan, disfagia.
      • Riwayat DM, Peningkatan lemak dalam darah.

Data obyektif:

      • Problem dalam mengunyah (menurunnya reflek palatum dan faring)
      • Obesitas (faktor resiko).
    • Sensori Neural
      Data Subyektif:

      • Pusing / syncope (sebelum CVA / sementara selama TIA).
      • Nyeri kepala : pada perdarahan intra serebral atau perdarahan sub arachnoid.
      • Kelemahan, kesemutan/kebas, sisi yang terkena terlihat seperti lumpuh/mati.
      • Penglihatan berkurang.
      • Sentuhan : kehilangan sensor pada sisi kolateral pada ekstremitas dan pada muka ipsilateral (sisi yang sama).
      • Gangguan rasa pengecapan dan penciuman.

Data obyektif:

      • Status mental : koma biasanya menandai stadium perdarahan, gangguan tingkah laku (seperti: letergi, apatis, menyerang) dan gangguan fungsi kognitif.
      • Ekstremitas : kelemahan / paraliysis (kontralateral) pada semua jenis stroke, genggaman tangan tidak imbang, berkurangnya reflek tendon dalam (kontralateral).
      • Wajah: paralisis / parese (ipsilateral).
      • Afasia (kerusakan atau kehilangan fungsi bahasa), kemungkinan ekspresif/ kesulitan berkata kata, reseptif / kesulitan berkata kata komprehensif, global / kombinasi dari keduanya.
      • Kehilangan kemampuan mengenal atau melihat, pendengaran, stimuli taktil.
      • Apraksia : kehilangan kemampuan menggunakan motorik.
      • Reaksi dan ukuran pupil : tidak sama dilatasi dan tak bereaksi pada sisi ipsi lateral.
    • Nyeri / kenyamanan
      Data Subyektif:

      • Sakit kepala yang bervariasi intensitasnya.

Data obyektif:

      • Tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan otot / fasial.
    • Respirasi
      Data Subyektif:

      • Perokok (factor resiko).
    • Keamanan
      Data obyektif:

      • Motorik/sensorik : masalah dengan penglihatan.
      • Perubahan persepsi terhadap tubuh, kesulitan untuk melihat objek, hilang kewasadaan terhadap bagian tubuh yang sakit.
      • Tidak mampu mengenali objek, warna, kata, dan wajah yang pernah dikenali.
      • Gangguan berespon terhadap panas, dan dingin/gangguan regulasi suhu tubuh.
      • Gangguan dalam memutuskan, perhatian sedikit terhadap keamanan, berkurang kesadaran diri.
    • Interaksi social
      Data obyektif:

      • Problem berbicara, ketidakmampuan berkomunikasi.

(Doenges E, Marilynn,2000).
B. Diagnosa Keperawatan

  1. Perubahan perfusi jaringan serebral b.d terputusnya aliran darah : penyakit oklusi, perdarahan, spasme pembuluh darah serebral, edema serebral.
  2. Kerusakan mobilitas fisik b.d keterlibatan neuromuskuler, kelemahan, parestesia, flaksid/ paralysis hipotonik, paralysis spastis. Kerusakan perceptual / kognitif.
  3. Pola nafas tak efektif berhubungan dengan adanya depresan pusat pernapasan.

C. Intervensi

Diagnosa Keperawatan 1. :
Perubahan perfusi jaringan serebral b.d terputusnya aliran darah : penyakit oklusi, perdarahan, spasme pembuluh darah serebral, edema serebral.
Kriteria Hasil :

    • Terpelihara dan meningkatnya tingkat kesadaran, kognisi dan fungsi sensori / motor.
    • Menampakan stabilisasi tanda vital dan tidak ada PTIK.
    • Peran pasien menampakan tidak adanya kemunduran / kekambuhan.

Intervensi :
Independen

    • Tentukan factor factor yang berhubungan dengan situasi individu/ penyebab koma / penurunan perfusi serebral dan potensial PTIK.
    • Monitor dan catat status neurologist secara teratur.
    • Monitor tanda tanda vital.
    • Evaluasi pupil (ukuran bentuk kesamaan dan reaksi terhadap cahaya).
    • Bantu untuk mengubah pandangan , misalnay pandangan kabur, perubahan lapang pandang / persepsi lapang pandang.
    • Bantu meningkatakan fungsi, termasuk bicara jika pasien mengalami gangguan fungsi.
    • Kepala dielevasikan perlahan lahan pada posisi netral.
    • Pertahankan tirah baring , sediakan lingkungan yang tenang , atur kunjungan sesuai indikasi.
    • Berikan suplemen oksigen sesuai indikasi.
    • Berikan medikasi sesuai indikasi :
      • Antifibrolitik, misal aminocaproic acid (amicar).
      • Antihipertensi.
      • Vasodilator perifer, missal cyclandelate, isoxsuprine.
      • Manitol.

Diagnosa Keperawatan 2. :
Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d kerusakan batuk, ketidakmampuan mengatasi lendir.
Kriteria Hasil:

    • Pasien memperlihatkan kepatenan jalan napas.
    • Ekspansi dada simetris.
    • Bunyi napas bersih saat auskultasi.
    • Tidak terdapat tanda distress pernapasan.
    • GDA dan tanda vital dalam batas normal.

Intervensi:

    • Kaji dan pantau pernapasan, reflek batuk dan sekresi.
    • Posisikan tubuh dan kepala untuk menghindari obstruksi jalan napas dan memberikan pengeluaran sekresi yang optimal.
    • Penghisapan sekresi.
    • Auskultasi dada untuk mendengarkan bunyi jalan napas setiap 4 jam.
    • Berikan oksigenasi sesuai advis.
    • Pantau BGA dan Hb sesuai indikasi.

Diagnosa Keperawatan 3. :
Pola nafas tak efektif berhubungan dengan adanya depresan pusat pernapasan
Tujuan :

    • Pola nafas pasien efektif

Kriteria Hasil:

    • RR 18-20 x permenit
    • Ekspansi dada normal.

Intervensi :

    • Kaji frekuensi, irama, kedalaman pernafasan.
    • Auskultasi bunyi nafas.
    • Pantau penurunan bunyi nafas.
    • Pastikan kepatenan O2 binasal.
    • Berikan posisi yang nyaman : semi fowler.
    • Berikan instruksi untuk latihan nafas dalam.
    • Catat kemajuan yang ada pada klien tentang pernafasan.

DAFTAR PUSTAKA

Long C, Barbara, Perawatan Medikal Bedah, Jilid 2, Bandung, Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Pajajaran, 1996.

Tuti Pahria, dkk, Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Ganguan Sistem Persyarafan, Jakarta, EGC, 1993.

Pusat pendidikan Tenaga Kesehatan Departemen Kesehatan, Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan Sistem Persarafan , Jakarta, Depkes, 1996.

Smeltzer C. Suzanne, Brunner & Suddarth, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Jakarta, EGC, 2002.

Marilynn E, Doengoes, 2000, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta, EGC, 2000.

Harsono, Buku Ajar : Neurologi Klinis,Yogyakarta, Gajah Mada university press, 1996.

sumber:http://hidayat2.wordpress.com/2009/04/23/askep-stroke-non-hemoragik/

STROKE (CVA: Celebrovaskuler Accident)

Definisi:

Secara umum gangguan pembuluh darah otak atau stroke merupakan gangguan sirkulasi serebral. Merupakan suatu gangguan neurologik fokal yang dapat timbul sekunder dari suatu proses patologis pada pembuluh darah serebral, misalnya trombosis, embolus, ruptura dinding pembuluh atau penyakit vascular dasar, misalnya aterosklerosis, arteritis, trauma, aneurisme dan kelainan perkembangan.

Stroke dapat juga diartikan sebagai gangguan fungsional otak yang bersifat:

© fokal dan atau global

© akut

© berlangsung antara 24 jam atau lebih

© disebabkan gangguan aliran darah otak

© tidak disebabkan karena tumor/infeksi

Stroke dapat digolongkan sesuai dengan etiologi atau dasar perjalanan penyakit. Sesuai dengan perjalanan penyakit, stroke dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :

1. Serangan iskemik sepintas (TIA) : merupakan gangguan neurologis fokal yang timbul mendadak dan menghilang dalam beberapa menit sampai beberapa jam.

2. Progresif/inevolution (stroke yang sedang berkembang) : perjalanan stroke berlangsung perlahan meskipun akut. Stoke dimana deficit neurologisnya terus bertambah berat.

3. Stroke lengkap/completed : gangguan neurologis maksimal sejak awal serangan dengan sedikit perbaikan. Stroke dimana deficit neurologisnya pada saat onset lebih berat, bisa kemudian membaik/menetap

Klasifikasi berdasarkan patologi:

1. Stroke hemoragi: stroke yang terjadi karena pembuluh darah di otak pecah sehingga timbul iskhemik dan hipoksia di hilir. Penyebab stroke hemoragi antara lain: hipertensi, pecahnya aneurisma, malformasi arteri venosa,

2. stroke non hemoragi: stroke yang disebabkan embolus dan thrombus.

Etiologi

Penyebab utama dari stroke diurutkan dari yang paling penting adalah aterosklerosis (trombosis), embolisme, hipertensi yang menimbulkan perdarahan intraserebral dan ruptur aneurisme sakular. Stroke biasanya disertai satu atau beberapa penyakit lain seperti hipertensi, penyakit jantung, peningkatan lemak dalam darah, diabetes mellitus atau penyakit vascular perifer.

Tanda dan Gejala

Stoke menyebabkan defisit neurologik, bergantung pada lokasi lesi (pembuluh darah mana yang tersumbat), ukuran area yang perfusinya tidak adequat dan jumlah aliran darah kolateral. Stroke akan meninggalkan gejala sisa karena fungsi otak tidak akan membaik sepenuhnya.

1. Kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh (hemiparese atau hemiplegia)

2. Lumpuh pada salah satu sisi wajah “Bell’s Palsy

3. Tonus otot lemah atau kaku

4. Menurun atau hilangnya rasa

5. Gangguan lapang pandang “Homonimus Hemianopsia

6. Gangguan bahasa (Disatria: kesulitan dalam membentuk kata; afhasia atau disfasia: bicara defeksif/kehilangan bicara)

7. Gangguan persepsi

8. Gangguan status mental

Faktor resiko

Yang tidak dapat dikendalikan: Umur, factor familial dan ras.

Yang dapat dikendalikan: hipertensi, penyakit kardiovaskuler (penyakit arteri koronaria, gagal jantung kongestif, hipertrofi ventrikel kiri, fibrilasi atrium, penyakit jantung kongestif), kolesterol tinggi, obesitas, kadar hematokrit tinggi, diabetes, kontrasepsi oral, merokok, penyalahgunaan obat, konsumsi alcohol.

Keterangan:

v Cardiovaskuler disease.

Adanya emboli dan thrombus pada otak dapat disebabkan oleh penyakit cardiovaskuler, mis : arterosklerosis

v Kadar hematokrit tinggi

Darahnya cepat mengental menyebabkan aliran darah itu lambat sehingga sel darah muda pecah dan mengendap meninbulkan trombus→stroke

v Diabetes
Hipergligekemia, darahnya kental sehingga beresiko membentuk endapan pada pembuluh darah ( thrombus ) → stroke

v Kontrasepsi oral + hipertensi, usia > 35 tahun, merokok, kadar esterogen tinggi

v Penurunan tekanan darah terlalu lama
aliran darah ke otak berkurang sehingga ferfusi 02 ke otak berkurang →stroke

Patofisiologi

  1. Trombosis (penyakit trombo – oklusif) merupakan penyebab stroke yang paling sering.

Arteriosclerosis selebral dan perlambatan sirkulasi selebral adalah penyebab utama trombosis selebral, yang adalah penyebab umum dari stroke. Tanda-tanda trombosis selebral bervariasi. Sakit kepala adalah awitan yang tidak umum. Beberapa pasien mengalami pusing, perubahan kognitif atau kejang dan beberapa awitan umum lainnya. Secara umum trombosis selebral tidak terjadi secara tiba-tiba, dan kehilangan bicara sementara, hemiplegia atau parestesia pada setengah tubuh dapat mendahului awitan paralysis berat pada beberapa jam atau hari.

Trombosis terjadi biasanya ada kaitannya dengan kerusakan local dinding pembuluh darah akibat atrosklerosis. Proses aterosklerosis ditandai oleh plak berlemak pada pada lapisan intima arteria besar. Bagian intima arteria sereberi menjadi tipis dan berserabut , sedangkan sel – sel ototnya menghilang. Lamina elastika interna robek dan berjumbai, sehingga lumen pembuluh sebagian terisi oleh materi sklerotik tersebut. Plak cenderung terbentuk pada percabangan atau tempat – tempat yang melengkung. Trombi juga dikaitkan dengan tempat – tempat khusus tersebut. Pembuluh – pembuluh darah yang mempunyai resiko dalam urutan yang makin jarang adalah sebagai berikut : arteria karotis interna, vertebralis bagian atas dan basilaris bawah. Hilangnya intima akan membuat jaringan ikat terpapar. Trombosit menempel pada permukaan yang terbuka sehingga permukaan dinding pembuluh darah menjadi kasar. Trombosit akan melepasakan enzim, adenosin difosfat yang mengawali mekanisme koagulasi. Sumbat fibrinotrombosit dapat terlepas dan membentuk emboli, atau dapat tetap tinggal di tempat dan akhirnya seluruh arteria itu akan tersumbat dengan sempurna.

2. Embolisme : embolisme sereberi termasuk urutan kedua dari berbagai penyebab utama stroke. Penderita embolisme biasanya lebih muda dibanding dengan penderita trombosis. Kebanyakan emboli sereberi berasal dari suatu trombus dalam jantung, sehingga masalah yang dihadapi sebenarnya adalah perwujudan dari penyakit jantung. Meskipun lebih jarang terjadi, embolus juga mungkin berasal dari plak ateromatosa sinus karotikus atau arteria karotis interna. Setiap bagian otak dapat mengalami embolisme, tetapi embolus biasanya embolus akan menyumbat bagian – bagian yang sempit.. tempat yang paling sering terserang embolus sereberi adalah arteria sereberi media, terutama bagian atas.

3. Perdarahan serebri : perdarahan serebri termasuk urutan ketiga dari semua penyebab utama kasus GPDO (Gangguan Pembuluh Darah Otak) dan merupakan sepersepuluh dari semua kasus penyakit ini. Perdarahan intrakranial biasanya disebabkan oleh ruptura arteri serebri. Ekstravasasi darah terjadi di daerah otak dan /atau subaraknoid, sehingga jaringan yang terletakdi dekatnya akan tergeser dan tertekan. Darah ini sangat mengiritasi jaringan otak, sehingga mengakibatkan vasospasme pada arteria di sekitar perdarahan. Spasme ini dapat menyebar ke seluruh hemisper otak dan sirkulus wilisi. Bekuan darah yang semula lunak menyerupai selai merah akhirnya akan larut dan mengecil. Dipandang dari sudut histologis otak yang terletak di sekitar tempat bekuan dapat membengkak dan mengalami nekrosis. Karena kerja enzim – enzim akan terjadi proses pencairan, sehingga terbentuk suatu rongga. Sesudah beberapa bulan semua jaringan nekrotik akan terganti oleh astrosit dan kapiler – kapiler baru sehingga terbentuk jalinan di sekitar rongga tadi. Akhirnya rongga terisi oleh serabut – serabut astroglia yang mengalami proliferasi. Perdarahan subaraknoid sering dikaitkan dengan pecahnya suatu aneurisme. Kebanyakan aneurisme mengenai sirkulus wilisi. Hipertensi atau gangguan perdarahan mempermudah kemungkinan ruptur. Sering terdapat lebih dari satu aneurisme.

Diagnosis

Pada diagnosis penyakit serebrovaskular, maka tindakan arteriografi adalah esensial untuk memperlihatkan penyebab dan letak gangguan. CT Scan dan MRI merupakan sarana diagnostik yang berharga untuk menunjukan adanya hematoma, infark atau perdarahan. EEG dapat membantu dalam menentukan lokasi.

Penatalaksanaan

Secepatnya pada terapeutik window (waktu dari serangan hingga mendapatkan pengobatan maksimal).

Therapeutik window ini ada 3 konsensus:

1. Konsensus amerika : 6 jam

2. Konsensus eropa: 1,5 jam

3. Konsensus asia: 12 jam

Prinsip pengobatan pada therapeutic window:

1. Jaringan penubra ada aliran lagi sehingga jaringan penubra tidak menjadi iskhemik.

2. Meminimalisir jaringan iskhemik yang terjadi.

Terapi umum:

Untuk merawat keadaan akut perlu diperhatikan faktor – faktor kritis sebagai berikut :

1. Menstabilkan tanda – tanda vital

a. memepertahankan saluran nafas (sering melakukan penghisapan yang dalam , O2, trakeotomi, pasang alat bantu pernafasan bila batang otak terkena)

b. kendalikan tekanan darah sesuai dengan keadaan masing – masing individu ; termasuk usaha untuk memperbaiki hipotensi maupun hipertensi.

2. Deteksi dan memperbaiki aritmia jantung

3. Merawat kandung kemih. Sedapat mungkin jangan memasang kateter tinggal; cara ini telah diganti dengan kateterisasi “keluar – masuk” setiap 4 sampai 6 jam.

4. Menempatkan posisi penderita dengan baik secepat mungkin :

a. penderita harus dibalik setiap jam dan latihangerakan pasif setiap 2 jam

b. dalam beberapa hari dianjurkan untuk dilakukan gerakan pasif penuh sebanyak 50 kali per hari; tindakan ini perlu untuk mencegah tekanan pada daerah tertentu dan untuk mencegah kontraktur (terutama pada bahu, siku dan mata kaki)

Terapi khusus:

Ditujukan untuk stroke pada therapeutic window dengan obat anti agregasi dan neuroprotektan. Obat anti agregasi: golongan pentoxifilin, tielopidin, low heparin, tPA.

1. Pentoxifilin:

Mempunyai 3 cara kerja:

v Sebagai anti agregasi → menghancurkan thrombus

v Meningkatkan deformalitas eritrosit

v Memperbaiki sirkulasi intraselebral

2. Neuroprotektan:

- Piracetam: menstabilkan membrane sel neuron, ex: neotropil

Cara kerja dengan menaikkan cAMP ATP dan meningkatkan sintesis glikogen

- Nimodipin: gol. Ca blocker yang merintangi masuknya Ca2+ ke dalam sel, ex.nimotup

Cara kerja dengan merintangi masuknya Ca2+ ke dalam sel dan memperbaiki perfusi jaringan otak

- Citicholin: mencegah kerusakan sel otak, ex. Nicholin

Cara kerja dengan menurunkan free faty acid, menurunkan generasi radikal bebas dan biosintesa lesitin

- Ekstrax gingkobiloba, ex ginkan

Pengobatan konservatif:

Pada percobaan vasodilator mampu meningkatkan aliran darah otak (ADO), tetapi belum terbukti demikian pada tubuh manusia. Dilator yang efektif untuk pembuluh di tempat lain ternyata sedikit sekali efeknya bahkan tidak ada efek sama sekali pada pembuluh darah serebral, terutama bila diberikan secara oral (asam nikotinat, tolazolin, papaverin dan sebagainya), berdasarkan uji klinis ternyata pengobatan berikut ini masih berguna : histamin, aminofilin, asetazolamid, papaverin intraarteri.

Pembedahan:

Endarterektomi karotis dilakukan untuk memeperbaiki peredaran darah otak. Penderita yang menjalani tindakan ini seringkali juga menderita beberapa penyulit seperti hipertensi, diabetes dan penyakit kardiovaskular yang luas. Tindakan ini dilakukan dengan anestesi umum sehingga saluran pernafasan dan kontrol ventilasi yang baik dapat dipertahankan.

Asuhan Keperawatan

Pengkajian:

1. Perubahan pada tingkat kesadaran atau responivitas yang dibuktikan dengan gerakan, menolak terhadap perubahan posisi dan respon terhadap stimulasi, berorientasi terhadap waktu, tempat dan orang

2. Ada atau tidaknya gerakan volunteer atau involunter ekstremitas, tonus otot, postur tubuh, dan posisi kepala.

3. kekakuan atau flaksiditas leher.

4. Pembukaan mata, ukuran pupil komparatif, dan reaksi pupil terhadap cahaya dan posisi okular.

5. Warna wajah dan ekstremitas, suhu dan kelembaban kulit.

6. Kualitas dan frekuensi nadi, pernapasan, gas darah arteri sesuai indikasi, suhu tubuh dan tekanan arteri.

7. kemampuan untuk bicara

8. Volume cairan yang diminum dan volume urin yang dikeluarkan setiap 24 jam.

Diagnosa yang mungkin muncul:

1. Kerusakan mobilitas fisik b.d hemiparese, kehilangan koordinasi dan keseimbangan, spastisitas, dan cedera otak

2. nyeri b.d hemiparese dan disuse

3. Kurang perawatan diri b.d gejala sisa stroke

4. Kerusakan komunikasi verbal b.d kerusakan otak

5. Perubahan proses berpikir b.d kerusakan otak, konfusi, ketidakmampuan mengikuti instruksi

6. Inkontinensia b.d kandung kemih flaksid, ketidak stabilan detrusor

7. Perubahan proses keluarga b.d penyakit berat dan beban pemberian perawatan

Rencana Keperawatan

No Diagnosa Tujuan/KH Intervensi Rasional
1. Kerusakan mobilitas fisik b.d hemiparese, kehilangan koordinasi dan keseimbangan, spastisitas, dan cedera otak Ambulasi/ROM normal dipertahankanKH:

-Sendi tidak kaku

-Tidak terjadi atropi otot

1. Terapi latihanMobilitas sendi

-Jelaskan pada klien&kelg tujuan latihan pergerakan sendi.

-Monitor lokasi&ketidaknyamanan selama latihan

-Gunakan pakaian yang longgar

-Kaji kemampuan klien terhadap pergerakan

-Encourage ROM aktif

-Ajarkan ROM aktif/pasif pada klien/kelg.

-Ubah posisi klien tiap 2 jam.

-Kaji perkembangan/kemajuan latihan

2. Self care Assistance

-Monitor kemandirian klien

-bantu perawatan diri klien dalam hal: makan,mandi, toileting.

-Ajarkan keluarga dalam pemenuhan perawatan diri klien.

Pergerakan aktif/pasif bertujuan untuk mempertahankan fleksibilitas sendiKetidakmampuan fisik dan psikologis klien dapat menurunkan perawatan diri sehari-hari dan dapat terpenuhi dengan bantuan agar kebersihan diri klien dapat terjaga
2. Nyeri kepala b.d hemiparese, disuse Klien dapat mengontrol nyeriKH:

-Klien mengatakan nyeri yang dirasakan berkurang

-Klien dapat mendeskripsikan bagaimana mengontrol nyeri

-Klien mengatakan kebutuhan istirahat dapat terpenuhi

-Klien dapat menerapkan metode non farmakologik untuk mengontrol nyeri

1. Identifikasi nyeri yang dirasakan klien (P, Q, R, S, T)2. Pantau tanda-tanda vital.

3. Berikan tindakan kenyamanan.

Ajarkan teknik non farmakologik (relaksasi, fantasi, dll) untuk menurunkan nyeri.

4. Berikan analgetik sesuai indikasi

Menyediakan data dasar untuk memantau perubahan dan mengevaluasi intervensi.Memberikan dukungan menurunkan ketegangan otot, meningkatkan relaksasi, menfokuskan ulang perhatian, meningkatkan rasa control diri dan kemampuan kopimg.

Titik managemen intervensi

3. Resiko infeksi b.d prosedur invasif Pasien tidak mengalami infeksiKH:

Klien bebas dari tanda-tanda infeksi

-Klien mampu menjelaskan tanda&gejala infeksi

1. Mengobservasi&melaporkan tanda&gejala infeksi, spt kemerahan, hangat, rabas dan peningkatan suhu badan2. mengkaji suhu klien netropeni setiap 4 jam, melaporkan jika temperature lebih dari 380C

3. Menggunakan thermometer elektronik atau merkuri untuk mengkaji suhu

4. Catat7laporkan nilai laboratorium

5. kaji warna kulit, kelembaban kulit, tekstur dan turgor lakukan dokumentasi yang tepat pada setiap perubahan

6. Dukung untuk konsumsi diet seimbang, penekanan pada protein untuk pembentukan system imun

Onset infeksi dengan system imun diaktivasi&tanda infeksi munculKlien dengan netropeni tidak memproduksi cukup respon inflamasi karena itu panas biasanya tanda&sering merupakan satu-satunya tanda

Nilai suhu memiliki konsekuensi yang penting terhadap pengobatan yang tepat

Nilai lab berkorelasi dgn riwayat klien&pemeriksaan fisik utk memberikan pandangan menyeluruh

Dapat mencegah kerusakan kulit, kulit yang utuh merupakan pertahanan pertama terhadap mikroorganisme

Fungsi imun dipengaruhi oleh intake protein

4. Defisit perawatan diri b.d gejala sisa stroke Klien dapat memenuhi kebutuhan perawatan diriKH:

-Klien terbebas dari bau, dapat makan sendiri, dan berpakaian sendiri

7. Observasi kemampuan klien untuk mandi, berpakaian dan makan.8. Bantu klien dalam posisi duduk, yakinkan kepala dan bahu tegak selama makan dan 1 jam setelah makan

9. Hindari kelelahan sebelum makan, mandi dan berpakaian

10. Dorong klien untuk tetap makan sedikit tapi sering

Dengan menggunakan intervensi langsung dapat menentukan intervensi yang tepat untuk klienPosisi duduk membantu proses menelan dan mencegah aspirasi

Konservasi energi meningkatkan toleransi aktivitas dan peningkatan kemampuan perawatan diri

Untuk meningkatkan nafsu makan

5. Gangguan pola tidur b.d lingkungan &kurangnya privasi Klien dapat memenuhi kebutuhan tiudurKH:

Klien jarng terbangun pada malam hari

-Klien mudah tertidur tanpa merasa kesulitan

-Klien dapat bangun pada pagi hari dengan segar&tidak merasa lelah

1. Mengkaji pola tidur klien untuk merencanakan perawatan2. Observasi medikasi & diet klien

3.Bantu klien mengurangi nyeri sebelum tidur dan posisikan klien dengan nyaman untuk tidur

4. Jaga lingkungan tenang, misalnya menurunkan volume radio&televisi

Kebiasaan pola tidur adalah individual. Data yang dikumpulkan secara komprehensif dan holistic dibutuhkan untuk memutuskan etiologi gangguan tidurSulit tidur bias merupakan efek samping medikasi

Klien mengatakan posisi yang tidak nyaman dan nyeri adalah factor yang sering menjadi penyebab gangguan tidur

Keramaian yang berlebih menyebabkan gangguan tidur

7. Kurang pengetahuan b.d kurang mengakses informasi kesehatan Pengetahuan klien meningkatKH:

-Klien & keluarga memahami tentang penyakit Stroke, perawatan dan pengobatan

1. Mengkaji kesiapan&kemampuan klien untuk belajar2. Mengkaji pengetahuan&ketrampilan klien sebelumnya tentang penyakit&pengaruhnya terhadap keinginan belajar

3. Berikan materi yang paling penting pada klien

4. Mengidentifikasi sumber dukungan utama&perhatikan kemampuan klien untuk belajar & mendukung perubahan perilaku yang diperlukan

5. Mengkaji keinginan keluarga untuk mendukung perubahan perilaku klien

6. Evaluasi hasi pembelajarn klie lewat demonstrasi&menyebautkan kembali materi yang diajarkan

Proses belajar tergantung pada situasi tertentu, interaksi social, nilai budaya dan lingkunganInformasi baru diserap meallui asumsi dan fakta sebelumnya dan bias mempengaruhi proses transformasi

Informasi akan lebih mengena apabila dijelaskan dari konsep yang sederhana ke yang komplek

Dukungan keluarga diperlukan untuk mendukung perubahan perilaku

RUBT

RUBT

PENGERTIAN TERAPI OHB

Terapi OHB adalah terapi menggunakan oksigen murni(100%) sebagai media nafas yang dilaksanakan di dalam ruang udara bertekanan tinggi (RUBT) dengan tekanan lebih dari 1 ATA.

Kesehatan hiperbarik adalah bidang ilmu yang mempelajari masalah kesehatan akibat pemberian tekanan lebih dari 1 ATA terhadap tubuh serta penggunaannya untuk pengobatan.

ASPEK FISIKA TERAPI OHB

Praktisnya, komposisi udara disederhanakan menjadi 21% O2 dan 79% N2. Salah satu hukum yang berkaitan dengan aspek fisika gas hiperbarik adalah hukum Boyle, mengatakan bahwa bila temperatur dipertahankan konstan, volume gas berbanding terbalik dengan tekanan. Volume gas menurun dengan peningkatan tekanan dan naik dengan penurunan tekanan.

A. Efek kelarutan oksigen pada plasma

Pada tekanan barometer normal, O2 yang larut dalam plasma sangat sedikit. Namun pada tekanan oksigen yang aman 3 ATA, dimana PO2 arterial mencapai ± 2000 mmHg, tekanan O2 meningkat 10 sampai 13 kali dari normal dalam plasma. Oksigen yang larut dalam plasma sebesar ± 6 vol % ( 6 ml O2 per 100 ml plasma) yang cukup untuk memberi hidup meskipun tidak ada darah “ life without blood”.

B. Hemoglobin (Hb)

Satu gram Hb dapat mengikat 1,34 ml O2, sedangkan konsentrasi normal dari Hb adalah ± 15 gram per 100 ml darah. Bila saturasi Hb 100% maka 100 ml darah dapat mengangkut 20,1 ml O2 yang terikat pada Hb (20,1 vol %). Pada tekanan normal setinggi permukaan laut, dimana PO2 alveoler dan arterial ± 100 mmHg, maka saturasi Hb dengan O2 ± 97 % dimana kadar O2 dalam darah adalah 19,5 vol %. Saturasi Hb akan mencapai 100 % pada PO2 arterial antara 100-200 mmHg tidak akan meningkatkan kemampuan Hb untuk mengangkut O2.

MANFAAT TERAPI OHB

Semula terapi OHB di LAKESLA ini dikhususkan untuk penyelam yang mengalami kelainan atau penyakit akibat penyelaman. Tetapi kemudian dikembangkan untuk terapi penyakit klinis serta dapat meningkatkan kebugaran dan kecantikan. Program kebugaran ditujukan untuk mempertahankan kebugaran tubuh sehingga diperoleh kapasitas kerja dan kualitas hidup yang optimal. Segala kelelahan fisik dengan cepat dapat diatasi. Terapi OHB menyebabkan :

- Metabolisme aerob meningkat, sehingga terjadi peningkatan produksi ATP

- Meningkatkan produksi enzim antioksidan dan memacu kerja enzim tersebut sehingga mempercepat pemecahan asam laktat maka kadar asam laktat dalam tubuh akan menurun.

- Menghambat enzim glukolitik sulfhidril sehingga pemecahan glukosa (proses glukolisis) meningkat.

- Meningkatkan libido/gairah seksual dengan perbaikan vaskularisasi

Program kecantikan ditujukan untuk :

- Meningkatkan elastisitas kulit dengan menstimulasi pembentukan kolagen, melembabkan kulit serta peremajaan sel-sel tubuh. Dengan OHB yang baik, sel-sel kulit yang tua dengan cepat diganti dan diremajakan, kulit tidak mudah keriput.

- Meningkatkan aktifitas kelenjar keringat, kelenjar sebacea, folikel rambut, dll

Peningkatan pembentukan kolagen dan aktifitas folikel rambut sudah diteliti oleh dr Duty dan Avongsa tahun 2008.

Program geriatri ditujukan untuk mengatasi gejala proses menua/ pikun (demensia/Alzheimer). Dasar ilmiah OHB untuk kecantikan dan geriatri adalah :

- Meningkatkan kadar enzim antioksidan SOD (Super Oxide Dismutase) dan menurunkan kadar radikal bebas sehingga menghambat proses penuaan. Penelitian dr Satria, tahun 2000 yaitu terapi OHB pada wanita lansia, dimana pada hari ke-3 tercapai kadar enzim SOD yang optimal, sedang kadar radikal bebas/ROS (Reactive Oxygen Species) paling rendah. Pada hari ke-5 kadar enzim SOD mulai menurun, tetapi masih lebih tinggi dari sebelum terapi OHB.

Radikal bebas berlebih mempengaruhi proses metabolisme di mitokondria, dapat merusak 3 komponen penting sel yaitu lipid membran, protein dan DNA sehingga sel cepat rusak (necrosis dan apoptosis). 1954, Denham Harman : “Why we age at the cellular level”. Radikal bebas juga berperan pada proses cardiovascular disease (artherosklerosis,hipertensi esensial), respiratory diseases, reperfusion injury, DM, impairments of the immune system, amiloidosis,carcinogenesis.

- Menunda demensia : memperbaiki hipoksia sehingga meningkatkan metabolisme oksigen dan glukosa di otak.

- Mengatasi sindrom menopause (menopause symptoms)

DOSIS TERAPI

Dosis terapi untuk program kebugaran dan kecantikan di LAKESLA adalah :

- 1x / hari, selama 5 hari berturut-turut, kemudian istirahat 2 hari dilanjutkan 1x / hari selama 5 hari berturut-turut lagi

- Dosis maintenance : 1x / hari, selama 3 hari berturut-turut per bulan

- Dosis 1x terapi yaitu menghirup O2 100% 3×30 menit interval 5 menit

Manfaat Terapi Hiperbarik Oksigen

Percepat Penyembuhan Luka

Beberapa penyakit degeneratif seperti diabetes mellitus kerap menimbulkan luka menahun yang tak kunjung sembuh. Tak hanya itu, hal-hal lain seperti trauma, tersiram bahan kimia, infeksi, maupun tindakan operatif dapat juga menyebabkan terjadinya perlukaan. Pada sebagian orang, luka tersebut dapat sembuh dengan sendirinya. Akan tetapi, pada sebagian yang lain, seperti pengidap diabetes, perlukaan dapat berlangsung menahun, bahkan berujung pada amputasi.

Nah, untuk menghindari hal tersebut, Anda dapat mencoba terapi hiperbarik oksigen (HBO). HBO merupakan pengobatan yang menggabungkan pernapasan dengan 100 persen oksigen (O2). Berbeda dengan pengobatan lain yang juga menggunakan oksigen, terapi HBO yang pada awalnya digunakan untuk menangani kasus kecelakaan penyelamaan itu sangat fisiologis, aman, dan tidak menyakitkan. Sebab, oksigen yang diberikan hanya dihisap, tidak disemprotkan, diminum, atau disuntikkan.

Dikatakan oleh Mayor Laut dr Danandjaja MKes MARS, Kabag Hyperbaric Chamber Lakesla (Lembaga Kesehatan Kelautan) dr R. Sastropanular, pelaksanaan terapi HBO ini layaknya menyelam menggunakan kapal selam. Pada pelaksanaannya, pasien memasuki hyperbaric chamber (ruang hiperbaric), kemudian ruangan tersebut diberikan tekanan sebesar 2,4 atmosfer absolut (setara dengan kedalaman 14 meter di bawah permukaan laut). Terapi ini diberikan selama 3 x 30 menit. Pada tekanan ini, kadar oksigen dalam darah 10-12 kali lebih besar dari tekanan normal.

“Namun, pasien tidak menghisap oksigen murni selama 90 menit berturut-turut. Setiap tiga puluh menit, tabung oksigen dilepas dan beristirahat selama lima menit. Setelah itu, dihisap lagi,” ujar alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu. Total pelaksanaan terapi memakan waktu dua jam.

Dipilih tekanan 2,4 atmosfer absolut selama pemberian oksigen karena tekanan tersebut merupakan dosis aman serta dosis optimum. Selain itu, pemberian tekanan yang lebih besar dapat menyebabkan terbentuknya radikal bebas di dalam tubuh.

Mengapa oksigen? Diterangkan oleh Danandjaja, suplai oksigen yang rendah (hipoksia) pada daerah luka merupakan salah satu faktor yang sering menghambat penyembuhan. Dasar rasionanlisasi terapi HBO adalah memperbaiki lingkungan mikro di sekitar daerah luka dengan cara menstimulasi pembentukan fibroblast, meningkatkan sintesa kolagen, dan mempercepat epitelisasi sehingga jaringan penutup luka lebih cepat terbentuk.

“Terapi HBO juga meningkatkan kemampuan sel darah putih menghancurkan bakteri di sekitar luka, pun menstimulasi pembentukan pembuluh darah baru pada jaringan iskemik,” lanjut Danandjaja. Peningkatan suplai oksigen sangat berperan dalam mempertahankan kelangsungan hidup, mulai dari sel, jaringan, hingga organ. Misalnya pada pencangkokan kulit (skin graft) atau penyambungan jari yang putus. Jaringan yang baru dicangkokkan (replantasi) seringkali dalam kondisi kekurangan oksigen. Padahal, oksigen diperlukan untuk menjaga kelangsungan hidup jaringan di tempat yang baru agar berfungsi dengan baik dan supaya luka operasi dapat segera sembuh.(ign)

Tetap Harus Minum Obat

Yang perlu diperhatikan, ketika pertama kali melakukan terapi ini, pasien baru umumnya akan mengalami keluhan sakit pada gendang telinga karena perubahan tekanan. Jika hal ini terjadi, pasien disarankan untuk melakukan tindakan valsava. Yaitu, upaya equalisasi tekanan telinga dengan tekanan di luar. “Caranya, mulut ditutup rapat, hidung dipencet dengan jari. Lalu, hembuskan napas melalui hidung, seperti akan membuang ingus. Rasakan, hingga udara keluar dari telinga. Lakukan berkali-kali sampai kondisi telinga normal,” ujar Mayor Laut dr Danandjaja MKes MARS, Kabag Hyperbaric Chamber Lakesla (Lembaga Kesehatan Kelautan) dr R Sastropanular. Keluhan ini umumnya hanya dirasakan pada sesi pertama terapai. Pada sesi selanjutnya tidak terasa lagi.

Terapi hiperbarik oksigen (HBO) merupakan terapi tambahan yang mendampingi standar pengobatan yang sudah ada. Jadi, terapi ini bukan terapi alternatif yang berdiri sendiri. “Dengan kata lain, untuk mempercepat penyembuhan luka, selain melakukan terapi hiperbarik, tetap harus mengonsumsi obat,” ujarnya. Keberhasilan penyembuhan luka, terutama perlukaan pasca operasi yang memanfaatkan terapi HBO akan lebih baik bila ada komunikasi dan kerja sama antara dokter bedah dan dokter hiperbarik.Terapi ini bukan terapi instan yang bisa didapat hasilnya dalam waktu singkat. “Karena itu dibutuhkan terapi hingga berkali-kali untuk mendapatkan hasil optimal,” tandas Danandjaja. (ign)

Last changed: 19/10/2009

PENGENALAN DAN TERAPI RUBT (RUANG UDARA BERTEKANAN TINGGI = HYPERBARIC CHAMBER) PENDAHULUAN Ruang Udara Bertekanan Tinggi (RUBT) = Hyperbaric Chamber : Suatu tabung baja,aluminium,akrilik dan tahan tekanan lebih 1 ATA HENSHAW (1762) →: DOMICILIUM JOSEPH PRIESTLEY (1775) → : OKSIGEN THOMAS BEDDOES (1780) : RUBT + Oksigen Abad 20, CUNNINGHAM (1918) : Terapi hipoksia & infeksi anaerob ITE BOEREMA (1960) : Hidup tanpa Hb di dalam RUBT RUBT Berdasar kegunaannya : 1. Recompression Chamber 2. Decompression Chamber 3. Submersible Decompression Chamber 4. Surface atau Deck Decompression Chamber KLASIFIKASI : A.Pertemuan Komite Fasilitas Kesehatan Amerika dan Asosiasi Nasional Proteksi Kebakaran Amerika (Kanada 1981), didukung oleh Institut Nasional Amerika : 1. RUBT Klas A – manusia 2. RUBT B –manusia 3. RUBT Klas C – binatang / penelitian 1. Tipe RUBT : a. Kering b. Basah c. Kombinasi 2. Klas RUBT : a. Klas I – kering,basah,kombinasi – manusia b. Klas II – kering, basah, kombinasi – binatang C. Menurut Jenis 1. Large Multicompartment Chamber : – Lebih 1 orang – Penelitian, pengobatan Caisson, penyelam – Tekanan lebih 5 ATA 2. Large Multicompartement Chamber – Tekanan 2 – 4 ATA 3. Portable High Pressure Multi-Man Chamber: – Dapat dipindahkan 4. Portable One Man High or Low Pressure Chamber : – Dekompresi permukaan – Satu orang D. Menurut Ukuran,bentuk dan kemampuan Tekanan 1. Monoplace (RUBT Tunggal)  Akrilik (banyak), tekanan 3 ATA (maks)  Baja, tekanan 6 ATA (maks)  Satu orang Keuntungan : a. Privat – kasus infeksi / isolasi b. Baik untuk intensif c. Tanpa masker d. Berbaring e. Mudah mengawasi penderita f. Tanpa prosedur dekompresi g. Murah dan mudah ditempatkan h. Operator satu orang Kerugian : a. Mudah kebakaran b. Tidak dapat fisioterapi c. Tidak untuk penyakit dekompresi 2. Multiple atau “walk – in “ Chamber (RUBT Ganda) Keuntungan : a) Bebrepa penderita b) Kurang resiko kebakaran c) Dapat Fisioterapi d) Tekanan 6 ATA (maks) e) Udara biasa – masker oksigen 3. TOPOX (RUBT Topikal) – Bentuk sederhana – Tekanan 2 ATA (maks) – Oksigen langsung di luka 4. Small Hyperbaric Chamber – Bayi dan eksperimen KOMPONEN-KOMPONEN PENDUKUNG • Badan (Hull) – Umumnya 2 ruang : # inner lock (dalam) – pengobatan # outer lock (luar) – transfer # masing-masing dapat ditekan – Medical Look – Pintu dilapisi karet – Jendela permanent – Cat warna terang, tidak pantulkan cahaya, mudah dibersihkan, tidak licin. • Perabot o Tepat duduk lipat o Penerangan o Tandu dorong • Sistem Pipa o Lubang masuk udara tekan, diredam o Lubang masuk – keluar berjauhan ——– sirkulasi udara o Pembuangan (exhaust) jauh dari panel control,listrik o Klep ekualisasi • Gas Pernafasan o Kompressor (listrik atau diesel) – difiltrasi –bank persediaan – ke RUBT o Oksigen, oksigen cair dan nitrogen,helium –oksigen dihubungkan system pernapasan o Gas pernapasan ke klep pengatur eksternal, ke dalam ruangan-ruangan klep pengatur internal kemudian flow meter, masker. • Komunikasi Untuk kedua ruangan dan penel control digunakan telepon atau intercom. • Pemadam kebakaran 3 faktor pencetus kebakaran :  Sumber  Bahan baker  Oksigen Fasilitas pemadam menggunakan air pancuran otomatis atau manual, dengan slang dan tabung. Instrumentasi dan Pengoperasian Panel control mudah dibaca Pengukuran tekanan / kedalaman didalam dan dipanel control Jam dinding Flow meter untuk megukur kecepatan ventilasi Monitor suhu dan kelembaban Monitor elektro-diagnostik TERAPI RUBT RUBT diberi tekanan + oksigen = Terapi oksigen Hiperbarik (OHB) adalah cara pengobatan (medik) pada penderita di dalam RUBT dengan memberi nafas oksigen murni (100%) EFEK FISIOLOGI Efek mekanik : tekanan tinggi hanya untuk penyakit dekompresi,air embolism dan distensi gas abdomen. Efek terapi : terjadi peninggian tekanan parsial oksigen Di permukaan : – Tekanan udara 1 Atm Absolut (1 ATA=760 mmHg) – Tekanan parsial O2 (PO2) = 20% X 76 mmHg = 150 mmHg – PO2 Alveoli 100mmHg ———-> penyerapan O2 dan pertukaran CO2 – PO2 sirkulasi = 90 mmHg Hemoglobin :  Mengikat oksigen 97%  20 ml O2 per 100 ml darah = 20 vol %  Oksigen bebas cairan plasma = 0,3 vol% Tekanan 1 ATA , oksigen murni 100% :  Hemoglobin + O2 97% menjadi 100%  Cairan plasma : menjadi 2 Vol % Tekanan 2 ATA : cairan plasma 4 vol% Tekanan 3 ATA : cairan plasma 6 vol% = kebutuhan untuk metabolisme makluk hidup Manfaat OHB Klinik : 1. Menormalkan jaringan hipoksia dan anoksia 2. Vasokonstriksi arteri 3. Meningkatkan viabilitas sel dan jaringan 4. Meningkatkan kemampuan lekosit mebunuh kuman 5. Neovaskularisasi dan proliferasi 6. Bakteriostatik kuman aerob 7. Bakterisida kuman anaerob 8. Penyakit dekompresi PENUTUP • RUBT telah lama dikenal, diindonesia sementara berkembang, karena itu perlu dikenal • Manfaat terapi RUBT amat baik sebagai pengobatan utama maupun pengobatan tambahan, namun perlu waspada karena dapat menyebabkan keracunan oksigen.

sumber:http://ns-nining.blogspot.com/2009/06/pendahuluan-ruang-udara-bertekanan.html

Oksigen Hiperbarik

HYPERBARIC OXYGEN THERAPY CENTER

TERAPI OKSIGEN HIPERBARIK

Terapi oksigen hiperbarik adalah terapi menggunakan oksigen murni sebagai media nafas yang diberikan di dalam ruang udara bertekanan tinggi (hyperbaric chamber), semula terapi ini dikhususkan untuk penyelam yang mengalami kelainan atau penyakit akibat penyelaman. Tapi kemudian dikembangkan untuk terapi penyakit klinis serta dapat meningkatkan kebugaran.

Terapi HBO
MANFAAT TERAPI HBO

KELAINAN / PENYAKIT PENYELAMAN

Terapi HBO merupakan terapi untuk kelainan atau penyakit akibat penyelaman seperti penyakit dekompresi, emboli gas dan keracunan gas.

LUKA BAKAR

Pemberian terapi HBO sebagai terapi tambahan pada penderita luka baker dapat diberikan pada 24 jam pertama untuk mencegah perluasan luka baker, sedangkan pemberian pada hari berikutnya bermanfaat untuk menurunkan resiko infeksi dan mempercepat penyembuhan luka.

LUKA PENDERITA KENCING MANIS

Luka pada penderita kencing manis merupakan salah satu komplikasi yang paling ditakuti karena sulit disembuhkan. Paling sering terjadi di kaki dan disebabkan oleh bakteri anaerob. Pemberian terapi HBO dapat mematikan bakteri tersebut dan mempercepat penyembuhan luka.

LUKA PASCA OPERASI

  • Terapi HBO dapat mempercepat proses penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi.
  • Penyembuhan telapak tangan yang terputus setelah operasi penyambungan
  • Penyembuhan ujung amputasi kaki pada penderita DM.

KEBUGARAN DAN KECANTIKAN

Pemberian terapi HBO dapat meningkatkan dan mempertahankan kebugaran tubuh, menghilangkan kelelahan serta dapat meningkatkan elastisitas kulit dan peremajaan sel-sel tubuh.

LAIN – LAIN

Terapi HBO juga berguna untuk :

  • keracunan gas CO
  • cangkokan kulit
  • osteomyelitis
  • ujung amputasi yang tidak sembuh
  • rehabilitasi pasca stroke
  • radionekrosis
  • meningkatkan motilitas sperma pada kasus infertilitas
  • alergi
  • dll

PROSES TERAPI

Proses terapi HBO tergolong sederhana. Diawali dengan konsultasi dokter dan pemeriksaan fisik untuk menentukan ada tidaknya kontraindikasi mengikuti terapi HBO. Selanjutnya pasien masuk ke dalam chamber hiperbarik untuk menghirup oksigen murni. Selama mengikuti terapi, pasien akan didampingi oleh perawat yang berpengalaman dibawah pengawasan dokter ahli.

JANGKAUAN LAYANAN YANG LUAS

Fasilitas terapi HBO di LAKESLA dilengkapi dengan chamber yang diangkut ambulans untuk menjemput pasien yang memerlukan pertolongan darurat sehingga terapi sudah dapat dilaksanakan sejak ditempat dan selama perjalanan ke LAKESLA

FASILITAS PENDUKUNG

Dengan peralatan canggih yang dimiliki, LAKESLA melayani jasa medical check up, uji kemampuan fisik untuk olahragawan dan masyarakat umum. LAKESLA juga dilengkapi dengan fasilitas pemeriksaan lainnya seperti :EEG Deltamed, Periflux System 5010 & 5040, Spectrometermass Airspec Qp9000, Bomed, Telemetri, Treadmill, Ergometri, SpiroPro, ENG, Inbody analyzer dll.

SEHAT – BUGAR DAN CANTIK DENGAN HBO

PENDAHULUAN

Pada saat ini, terutama di daerah perkotaan, kemujuan dibidang industri dan peningkatan jumlah kendaraan bermotor dari tahun ke tahun mengakibatkan peningkatan polusi udara.

Demikian pula kebiasaaan tinggal di ruangan ber AC yang disertai dengan berbagai macam asap rokok, akan membuat udara pernafasan semakin tercemar. “Suka atau tidak suka” udara pernafasan yang kita hirup adalah udara pernafasan yang sangat tidak sehat, baik ketika kita berada di dalam maupun di luar ruangan.

Menurut data WHO, Indonesia merupakan negara berpolusi tertinggi ketiga di dunia setelah Mexico dan Thailand. Sehingga, saat in ipenyakit paru dan saluran pernafasan di Indonesia sudah menjadi pembunuh utama (Jakarta Post) setelah penyakit jantung pada tahun 1997.

Oksigen mutlak dibutuhkan setiap saat selama manusia hidup, sehingga terapi oksigen (HBO) bukan hanya dibutuhkan saat mengalami sesak nafas saja, tapi juga pada saat ‘tanpa keluhan kesehatan’. Pemberian oksigen yang cukup akan memperkecil angka kesakitan dan kematian akibat berbagai penyakit.

Hyperbaric Oxygen therapy (HBO) adalah terapi dengan memberikan oksigen 100% saat bernafas pada tekanan lebih dari satu atmosfir melalui media ruang udara bertekanan tinggi (RUBT). Terapi ini juga merupakan satu-satunya metode terapi oksigen yang paling ilmiah dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah pula karena didukung oleh bukti-bukti dari hasil penelitian, serta selama proses terapi selalu dipantau oleh dokter ahli hiperbarik.

Segeralah bergabung bersama kami sebelum terlambat dan timbul penyesalan di kemudian hari. Sebab bersama HBO anda akan lebih bugar, sehat, cantik dan awet muda.

PROSES TERAPI

Proses terapi HBO tergolong sederhana. Diawali dengan konsultasi dan pemeriksaan dokter untuk menentukan ada tidaknya kontra indikasi mengikuti terapi HBO. Selanjutnya pasien masuk ke dalam chamber hiperbarik untuk menghirup oksigen murni.

Selama mengikuti terapi, pasien akan didampingi oleh perawat yang berpengalaman di bawah pengawasan dokter ahli hiperbarik. Peserta dapat melaksanakan senam dan bergoyang mengikuti alunan musik yang diputar oleh operator.

MANFAAT TERAPI OKSIGEN HIPERBARIK

KEBUGARAN

Pria maupun wanita sehat, ditujukan untuk meningkatkan dan mempertahankan kebugaran tubuh, sehingga diperoleh kapasitas kerja dan kualitas hidup yang optimal. Segala kelelahan fisik denga cepat teratasi.

KECANTIKAN

Wanita muda usia di bawah 40 tahun, ditujukan untuk meningkatkan elastisitas kulit, menghaluskan dan melembabkan kulit serta peremajaan sel-sel tubuh. Dengan oksigenasi yang baik sel-sel kulit yang tua dengan cepat diganti dan diremajakan

GERIATRIK DAN MUDAH LUPA

Orang sehat, muda maupun tua yang sudah mengalami proses menua/pikun (demensia dan Alzheimer), gejala-gejala tersebut dapat teratasi dengan terapi HBO.

PENGALAMAN PESERTA HBO

  • Ny. E 55 th, luka di kaki tidak sembuh, telah disarankan untuk amputasi, tapi menolak. Setelah mengikuti HBO luka cepat membaik dan sekarang sudah dapat berjalan dengan kedua kaki.
  • Ny. L 48 th, menyatakan flek atau bintik-bintik hitam di wajah serta kulit pecah-pecah ditelapak kaki menghilang setelah mengikuti HBO sesi ke III
  • Tn P 56 th, dengan keluhan sesak nafas bila naik tangga, peserta adalah penderita asma bronchiale menahun. Pada sesi HBO ke III peserta mengatakan dapat naik turun tangga di rumahnya dengan enak, sesi ke IX bisa bebas dari obat asma
  • Tn W 34 th, ikut program kebugaran dengan keluhan “impotent” (tidak bisa penetrasi) karena kencing manis. Menyatakan mengalami perbaikan seksual sehingga istri bisa orgasmus
  • Tn A 32 th, mengeluh kurang konsentrasi, mudah lelah, sering linu-linu, pegal-pegal di persendian, setelah mengikuti HBO 3 sesi merasa lebih bugar dan rasa lelah hilang.

FASILITAS PENDUKUNG

Dengan peralatan canggih yang dimiliki, LAKESLA melayani jasa medical check up, uji kemampuan fisik untuk olahragawan dan masyarakat umum. LAKESLA juga dilengkapi dengan fasilitas pemeriksaan lainnya seperti : EEG, Deltamed Periflux System 5010 & 5040, Spectromass Airspec Qp9000, Bomed, Telemetri, In Body Analyzer, Audiometer, Ergocycle, Treadmill dll.

LAIN-LAIN :

Terapi HBO juga berguna untuk :

  • Diabetes Melitus / Kencing Manis
  • Keracunan gas CO
  • Rehabilitasi pasca stroke
  • Penyakit jantung koroner
  • Osteomyelitis
  • Ujung amputasi yang tidak sembuh
  • Alergi (Rhinitis, Asma)
  • Luka baker
  • Cangkokan kulit
  • Radionekrosis
  • Meningkatkan mobilitas sperma pada kasus infertilitas
  • Mengatasi rambut rontok atau botak
  • Mencegah ubanan dini
  • Meningkatkan IQ
  • Meningkatkan libido pada kaum lansia
  • dll sumber:http://www.rsalramelan.com/layanan-unggulan/oksigen-hiperbarik.php

Keperawatan Menurut ICN

Keperawatan Menurut ICN

Keperawatan Keperawatan menurut American Nurse Association (ANA) adalah diagnosis dan perlakuan pada respon manusia terhadap masalah kesehatan baik yang sifatnya aktual maupun potensial.

Keperawatan menurut ICN adalah rumusan yang dibuat berdasarkan keputusan terhadap fenomena yang merupakan fokus dari intervensi keperawatan. Keperawatan adalah salah satu bentuk pelayanan kesehatan, dituntut untuk lebih meningkatkan profesionalisme sehingga dapat mengimbangi kemajuan – kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan yang semakin maju pesat, dengan mengembangkan potensi yang sudah dimiliki untuk memenuhi tuntutan masyarakat yang semakain tinggi terhadap pelayanan keperawatan.

ICN adalah suatu federasi perhimpunan perawat di seluruh dunia yang didirikan pada tanggal 1 Juli 1899 oleh Mrs.Bedford Fenwich di Hanover Square, London dan direvisi pada tahun 1973. Adapun kode etiknya adalah sebagai berikut :

1. Tanggung jawab utama perawat :

Tanggung jawab utama perawat adalah meningkatkan kesehatan, mencegah timbulnya penyakit, memelihara kesehatan dan mengurangi penderitaan. Untuk melaksanakan tanggung jawab utama tersebut, perawat harus meyakini bahwa :

a. kebutuhan terhadap pelayanan keperawatan di berbagai tempat adalah
sama.
b. pelaksanaan praktik keperawatan dititik beratkan pada penghargaan terhadap kehidupan yang bermartabat dan menjunjung tinggi hak asasi
manusia.
c. dalam melaksanakan pelayanan kesehatan dan /atau keperawatan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat, perawat mengikutsertakan kelompok dan instansi terkait.

2. Perawat, individu, dan anggota kelompok masyarakat.

Tanggung jawab utama perawat adalah melaksanakan asuhan keperawatan sesuai dengan kebutuhan masyuarakat. Oleh karena itu , dalam menjalankan tugas, perawat perlu meningkatkan keadaan lingkungan kesehatan dengan menghargai nilai-nilai yang ada di masyarakat, menghargai aadat kebiasaan serta kepercayaan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat yang menjadi pasien atau kliennya. Perawat dapat memegang teguh rahasia pribadi (privasi) dan hanya dapat memberikan keterangan bila diperlukaan oleh pihak yang berkepentingan atau pengadilan.

3.Perawat dan pelaksanaan praktik keperawatan

Perawat memegang peranan penting dalam menentukan dan melaksanakan standar praktik keperawatan untuk mencapai kemampuan yang sesuai dengan standar pendidikan keperawatan. Perawat dapat mengembangkan pengetahuan yang dimilikinya secara aktif untuk menopang perannya dalam situasi tertentu. Perawat sebagai anggota profesi, setiap saat dapat mempertahankan sikap sesuai dengan standar profesi keperawatan.

4. Perawat dan lingkungan masyarakat

Perawat dapat memprakarsai pembaharuan, tanggap, mempunyai inisiatif, dan dapat berperan serta secara aktif dalam menentukan masalah kesehatan dan masalah sosial yang terjadi di masyarakat.

5. Perawat dan sejawat

Perawat dapat menopang hubungan kerja sama dengan teman kerja, baik tenaga keperawatan maupun tenaga profesi lain di keperawatan. Perawat dapat melindungi dan menjamin seseorang, bila dalam masa perawatannya merasa terancam.

6. Perawat dan profesi keperawatan

Perawat memainkan peran yang besar dalam menentukan pelaksanaan standar praktik keperawatan dan pendidikan keperawatan . Perawat diharapkan ikut aktif dalam mengembangkan pengetahuan dalam menopang pelaksanaan perawatan secara profesional. Perawat sebagai anggota profesi berpartisipasi dalam memelihara kestabilan sosial dan ekonomi sesuai dengan kondisi pelaksanaan praktik keperawatan.

Ya Salam…..

Ya Salam…..

Lyrics

Arabic Lyrics

English Translation

Ya salam, ya salam addi eih hilwi ilgharam. Ah, ah, love is so sweet!
Ya salam, ya salam addi eih hilwi ilgharam. Ah, ah, love is so sweet!
Ya salam, ya salam addi eih hilwi ilgharam. Ah, ah, love is so sweet!
Ya salam, ya salam addi eih hilwi ilgharam. Ah, ah, love is so sweet!
Bila’ain willa ileiydain, badaina bilsalam. Mosh fakra yoamha mean illi ibtada bilkalam. With the eyes, or the hands, we started talking. I don’t remember who started talking that day.
Bila’ain willa ileiydain, badaina bilsalam. Mosh fakra yoamha mean illi ibtada bilkalam. With the eyes, or the hands, we started talking. I don’t remember who started talking that day.
Laakin fakra  a’iynayya lamma jiryate a’alaik. But I remember when my eyes landed on you.
We la-ate allbi ib-thawani malyan minnak ib-gharam. And in seconds, I found my heart filled with your love.
Ya salam, ya salam addi eih hilwi ilgharam. Ah, ah, love is so sweet!
Ya salam, ya salam addi eih hilwi ilgharam. Ah, ah, love is so sweet!
Ya salam, ya salam addi eih hilwi ilgharam. Ah, ah, love is so sweet!
Ya salam, ya salam addi eih hilwi ilgharam. Ah, ah, love is so sweet!
Ana shoftak, aalbi biysalem ma iaadsirtish ghair asalem. I saw you. My heart greeted you. It could do nothing but greet you.
Ana shoftak, aalbi biysalem ma iaadsirtish ghair asalem. I saw you. My heart greeted you. It could do nothing but greet you.
Dhamate aalbak fi hodhni iw a’aynaik aalitli khodni. I embraced your heart, and your eyes said, “Take me!”
Mosh a’arfa aih illi hasallia iwkhalani is-har manaam. I don’t know what happened to me. It kept me up all night and I missed dreaming.
Ya salam, ya salam addi eih hilwi ilgharam. Ah, ah, love is so sweet!
Ya salam, ya salam addi eih hilwi ilgharam. Ah, ah, love is so sweet!
Ya salam, ya salam addi eih hilwi ilgharam. Ah, ah, love is so sweet!
Ya salam, ya salam addi eih hilwi ilgharam. Ah, ah, love is so sweet!
We laaetni ba-ool lirouhi istanni balash tirouhi. And I found myself telling my soul, “Don’t go away!”
We laaetni ba-ool lirouhi istanni balash tirouhi. And I found myself telling my soul, “Don’t go away!”
Dhihkitli el dounya taani we hawak bilshoaa malaani. The world laughed for me again and your love filled me.
Mosh aadra istana tiji dana jayyalak awam. I can’t wait for you to come! I’m coming for you right away.
Ya salam, ya salam addi eih hilwi ilgharam. Ah, ah, love is so sweet!
Ya salam, ya salam addi eih hilwi ilgharam. Ah, ah, love is so sweet!
Ya salam, ya salam addi eih hilwi ilgharam. Ah, ah, love is so sweet!
Ya salam, ya salam addi eih hilwi ilgharam. Ah, ah, love is so sweet!
Ya salam, ya salam addi eih hilwi ilgharam. Ah, ah, love is so sweet!
Ya salam, ya salam addi eih hilwi ilgharam. Ah, ah, love is so sweet!
Ya salam, ya salam addi eih hilwi ilgharam. Ah, ah, love is so sweet!
Ya salam, ya salam addi eih hilwi ilgharam. Ah, ah, love is so sweet!

ALL ABOUT PANKREAS….

ALL ABOUT PANKREAS….

FISIOLOGI PANKREAS

A. Eksokrin
- Sel – sel asini menghasilkan beberapa enzim yang disekresikan melalui ductus pankreas yang bermuara ke duodenum.
- Enzim – enzim tersebut berfungsi untuk mencerna 3 jenis makanan utama = karbohidrat, protein, dan lemak.
- Sekresi ini juga mengandung sejumlah besar ion bikarbonat  menetralkan asam kimus dari lambung.
- Enzim proteolitik = tripsin, kimotripsin, dan karboksipolipeptidase.
Tripsin dan kimotripsin : memisahkan protein yang dicerna menjadi peptida, tapi tidak menyebabkan pelepasan asam – asam amino tunggal.
Karboksipolipeptidase : memecah beberapa peptida menadi asam – asam amino bentuk tunggal.
- Enzim proteolitik yang kurang penting = elastase dan nuklease.
- Enzim proteolitik disintesis di pankreas dalam bentuk tidak aktif berupa = tripsinogen, kimotripsinogen, dan prokarboksipolipeptidase = menjadi aktif jika disekresikan di tractus intestinal.
Tripsinogen diaktifkan oleh enzim enterokinase yang disekresi mukosa usus ketika kimus berkontak dengan mukosa. Kimotripsinogen dan prokarboksipolipeptidase diaktifkan oleh tripsin.
- Enzim pankreas untuk mencerna karbohidrat = amilase pankreas : menghidrolisis serat, glikogen, dan sebagian besar karbohidrat (kecuali selulosa) untuk membentuk trisakaridan dan disakarida.
- Enzim pencerna lemak = lipase pankreas : menghidrolisis lemak netral menjadi asam lemak dan monogliserida.
Kolesterol esterase : hidrolisis ester kolesterol.
Fosfolipase : memecah asam lemak dan fosfolipid.
- Tiga rangsangan dasar yang menyebabkan sekresi pankreatik :
1. Asetikolin : disekresikan ujung n. vagus parasimpatis dan saraf2 kolinergenik.
2. Kolesistokinin : disekresikan mukosa duodenum dan jejunum rangsangan asam.
3. Sekretin : disekresikan mukosa duodenum dan jejunum rangsangan asam.

B. Endokrin
- Fungsi endokrin kelenjar pankreas diperankan oleh pulau langerhans  terdiri atas 4 sel  sel α, sel β, sel δ, dan sel F.
- Sekresi sel – sel ini berupa hormon yang akan langsug diangkut melalui pembuluh darah.
Sel Hormon Target Utama Efek Hormonal Regulasi
1. α (Glukagon)
Target : Hati, jaringan adiposa
Efek : merombak cadangan lipid, merangsang sintesis glukosa dan pemecahan glikogen di hati, menaikan kadar glukosa.
Distimulasi oleh kadar glukosa darah yang rendah, dihambat oleh somatostatin.
2. β (Insulin)
Target : Sebagian besar sel
Efek : membantu pengambilan glukosa oleh sel, menstimulasi pembentukan dan penyimpanan glikogen dan lipid, menurunkan kadar glukosa darah.
Distimulasi oleh kadar glukosa darah yang tinggi, dihambat oleh somatostatin.
3. δ (Somatostatin)
Target : Sel langerhans lain, epitel saluran pencernaan
Efek : menghambat sekresi insulin dan glukagon, menghambat absorbsi usus dan sekresi enzim pencernaan.
Distimulasi oleh makanan tinggi-protein, mekanismenya belum jelas.
4. F (Polipeptida pankreas)
Target : Organ pencernaan
Efek : menghambat kontraksi kantong empedu, mengatur produksi enzim pankreas, mempengaruhi absorbsi nutrisi oleh saluran pencernaan.
Distimulasi oleh makanan tinggi-protein dan rangsang parasimpatis.